Bandar Lampung —Kopaja.web.id Dunia kerja kerap dipandang sebagai fase yang baru dimulai setelah mahasiswa resmi menyandang gelar sarjana. Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Batara, alumni Program Studi Teknik Mesin Universitas Bandar Lampung (UBL), yang telah lebih dulu menapaki karier profesionalnya bahkan sebelum prosesi wisuda.
Batara kini berkarier sebagai IoT Engineer di PT Bina Sarana Sukses, salah satu kontraktor pertambangan dan penyedia alat berat terkemuka di Indonesia. Posisi ini menuntut penguasaan teknis yang kuat, kemampuan analisis yang tajam, serta kesiapan menghadapi kompleksitas dan dinamika industri pertambangan yang terus berkembang. Capaian tersebut bukan diraih secara instan, melainkan hasil dari proses panjang yang telah ia tempuh dan persiapkan sejak masa perkuliahan, mulai dari penguatan kompetensi teknis hingga pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Kesempatan itu datang karena kita sudah siap. Dan kesiapan itu tidak dibangun di akhir, tapi sejak awal kuliah di UBL ,” ujarnya melaui pesan WhatsAppnya, Selasa (14/4/2026)
Selama menempuh pendidikan di UBL, Batara tidak hanya mengandalkan pembelajaran teoritis di kelas. Ia aktif mengasah kemampuan melalui praktik langsung, khususnya di Laboratorium Mekatronika dan Otomasi UBL. Di lingkungan tersebut, mahasiswa didorong untuk memahami penerapan konsep teknik dalam konteks industri yang nyata.
“Belajar di laboratorium sangat membantu saya, karena tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui bagaimana mengaplikasikannya di dunia kerja. Pengalaman belajar yang aplikatif ini menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kesiapan saya untuk memasuki dunia kerja. Selama itu, saya terbiasa menghadapi studi kasus, menyelesaikan masalah teknis, serta memahami alur kerja berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujar Batara.
Tak hanya unggul dalam aspek teknis, Batara juga menekankan pentingnya pengembangan soft skill selama masa kuliah. Melalui keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan Mahasiswa (HIMA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), ia belajar membangun kemampuan komunikasi, kerja tim, hingga adaptasi di berbagai situasi.
“Hal-hal seperti komunikasi dan kerja tim sering dianggap sederhana, tapi justru itu yang sangat dibutuhkan di dunia kerja,” tambahnya.
Selain itu, Batara juga aktif mengikuti berbagai pelatihan tambahan untuk memperkuat kompetensinya, di antaranya pelatihan Programmable Logic Controller (PLC) dan robotika. Langkah ini menjadi bagian dari upayanya untuk terus berkembang di luar kewajiban akademik.
Menurut Batara, masa kuliah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pengeluaran biaya, melainkan sebagai investasi jangka panjang. “Yang didapat selama kuliah bukan hanya ilmu, tetapi juga pengalaman, relasi, dan peluang yang sangat berpengaruh setelah lulus,” jelasnya.
Ia pun membagikan pesan kepada calon mahasiswa agar tidak menjalani perkuliahan secara biasa-biasa saja. “Terus haus dalam mengembangkan diri. Jangan menjadi mahasiswa yang hanya sekadar menjalani,” pungkasnya.
Kisah Batara menjadi gambaran bahwa kesiapan menghadapi dunia kerja tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dibentuk melalui proses yang konsisten sejak di bangku kuliah. Dengan dukungan lingkungan belajar yang aplikatif di UBL dan kesempatan untuk berkembang dan persiapan menata karier, masa kuliah dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan profesional.







